Tampilkan postingan dengan label Responding Paper. Tampilkan semua postingan

Responding Paper Zoroaster



Zarathustra atau Zoroaster adalah pelopor berdirinya Zoroastrianisme di Iran (Persia). Ia hidup sekitar abad ke-6 SM. Zarathustra berasal dari keturunan suku Media. Ia adalah seorang imam yang dididik dalam tradisi Indo-Iran. Sebelumnya, agama yang ada di Iran (Persia) bersumber pada macam-macam ajaran seperti politeisme, paganisme, dan animisme. Zarathustra yang merasa tidak puas dengan ajaran-ajaran yang berkembang di Iran pada waktu itu berusaha membawa pembaruan. Oleh sebab itu, oleh para ahli ia kemudian dianggap sebagai salah satu tokoh pembaru agama tradisional. Zarathustra dikenal sebagai "nabi" yang mempunyai karunia untuk menyembuhkan dan sanggup melakukan berbagai mujizat. Selama bertahun-tahun ia berusaha menemukan penyingkapan-penyingkapan dari kebenaran spiritual.
Zarathustra ingin memperbaiki sistem kepercayaan dan cara penyembahan kepada dewa-dewa yang berkembang di Persia saat itu. Pada usia tiga puluh tahun, Zarathustra menerima sebuah penglihatan. Menurut legenda, ia melihat cahaya besar yang kemudian membawanya masuk dalam hadirat Ahura Mazda. Sejak perjumpaannya dengan Ahura Mazda, Zarathustra menjadi semakin giat menyebarkan ajaran bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Ahura Mazda. Ajarannya yang sangat berbeda dengan kepercayaan yang ada pada waktu itu menyebabkan Zarathustra mendapat tekanan.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dan pergi ke Chorasma atau (Qarazm). Pada tahun 618 SM Raja Chorasma yaitu Vitaspa dan menterinya Yasasp yang menikahi Pauron Chista kemudian menjadi penganut Zoroastrianisme. Barulah Zoroastrianisme mengalami perkembangan dan semakin bertambah banyak yang menjadi pengikutnya. Zarathustra meninggal di usia 77 tahun. Ketika Islam berkuasa di Persia tahun 636-637 Masehi, Zoroastrianisme sempat mengalami kemunduran. Banyak penduduk Persia yang lebih tertarik kepada agama Islam. Sekelompok pemeluk Zoroastrianisme kemudian pergi ke India dan menetap di Bombay. Di sana mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Parsi.
Zoroastrianisme atau Mazdayasna adalah sebuah agama dan ajaran filosofi yang didasari oleh ajaran Zarathustra yang dalam bahasa Yunani disebut Zoroaster. Zoroastrianisme dahulu kala adalah sebuah agama yang berasal dari daerah Persia Kuno atau kini dikenal dengan Iran. Di Iran, Zoroastrianisme dikenal dengan sebutan Mazdayasna yaitu kepercayaan yang menyembah kepada Ahura Mazda atau "Tuhan yang bijaksana". Di Arab, Zoroastrianisme dikenal dengan sebutan Majusi. Kata “majusi” yang disebut dalam bahasa Arab yaitu orang-orang Zoroaster diadaptasi dari kata “ma-gu-sy” atau “magu” Persia kuno yang kemudian menjadi Magus setelah kata ini masuk dalam peristilahan bahasa Yunani. Kata magic dalam bahasa Inggris juga diadopsi dari kata ini. Dengan masuknya kata ini ke dalam bahasa Arab, kata ini kemudian menjadi Majusi.
Sebagian pendapat mengatakan, Zoroastrianisme adalah mazhab dari agama majusi. Dan mazhab majusi tersebut adalah zoroastrianisme, manu, madzdak, tsanwiyah, disahniyah, dan zindiq. Dalam kalangan penganut Majusi terdapat berbagai aliran dan golongan (Madzahab) seperti kalangan penganut berbagai agama-agama yang lain. Diantara aliran-aliran yang terbesar adalah:
A. Aliran Zoroaster
Ajaran Zoroaster diantaranya:
a.   Kepercayaan kepada Tuhan
Di dalam kepercayaannya keapada Tuhan, Zoroaster berbeda dengan ajaran Majusi terdahulu yang mempercayai dua tuhan, akan tetapi Zoroaster mempercayai hanya satu Tuhan yaitu tuhan kebaikan (Ahuramazda) yang merupakan tuhan mutlak. Sementara tuhan kegelapan atau tuhan kejahatan (Ahriman) menurut ajaran Zoroaster itu bukanlah tuhan. Melaikan roh jahat yang selalu mengajak manusia untuk berbuat jahat.
b. Kitab suci
Zoroaster juga memiliki kitab suci yang mereka namai dengan nama “Avesta”, sebuah kitab suci yang disusun dengan bahwa Persia kuno, (bahasa Pahlawy) yang halus, yang ada pada masa sekarang ini bahasa tersebut hamper tidak bisa dikenal. Sebagian besar kitab tersebut hilang, sebagian yang lain telah diterjemahkan ke bahasa Persia modern yang biasa dibaca oleh orang-orang Zoroaster ketika beribadah.
c.    Kepercayaan kepada Akhirat
Agama Zoroaster juga mempercayai kehidupan akhirat. Menurut ajarannya bahwa manusia akan melewati dua kehidupan kehidupan yang pertama adalah kehidupan dunia ini. sementara yang kudua adalah alam akherat setelah manusia mati. Dan manusia akan merasakan bahagia atau sengsara tergantung amal perbutannya di dunia.
d.   Yang mempengaruhi keadaan manusia
Menurut ajarannya pula bahwa manusia di pengaruhi dua kekuatan yang saling berlawanan yaitu pengaruh roh kebaikan dan roh keburukan. Manusia diciptakan oleh Ahuramadza yang diberikan kebebasan dalam menentukan kehendak. Sehingga manusia bisa jahat dan bisa baik tergantung mereka mengikuti roh jahat atau roh baik. Jika manusia mengikuti roh baik dengan menjalankan segala kebaikan maka Ahuramadza akan memberikan pahala, sementara jika mengikuti roh jahat dengan melakukan perbuatan yang jahat, maka ia akan mendapatkan dosa.
e. Terjadinya kiamat
Ajaran Zoroaster juga mempercayai akan adanya hari kiamat. Setelah dilakukan perhitungan amal manusia masing-masing maka manusia akan melintasi jalan untuk mencapai surga. Manusia yang memiliki amal yang banyak akan mudah melaluinya, semetera manusia yang banyak dosanya maka ia akan terjatuh dan masuk neraka bersama pengikut AHriman dalam siksa neraka.
f.    Tata cara kehidupan
Dalam kehidupan Zoroaster mengajarkan agar manusia untuk menikah, berketurunan, memelihara utsan penghidupan, pertanian dan peternakan. Sama seperti halnya agama yang lain.
g. Akhlak
Zoroaster mengajarkan kepada pemeluknya untuk menolong tuhannya mengalahkan roh jahat dengan melakukan pemurnia pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik; kebersiahan hati yang pemurah dan dermawan; pengasih kepada binatang terutama hewan yang berguna; melakukan pekerjaan yang bermanfaat ; menolong kepada sesame manusia terutama orang-orang yang membutuhkan; memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik.
Inti dari ajaran Zoroaster terletak pada tiga perkara yaitu “Huhata” yang berate “Pikiran yang bik”, “Hukhata” yang berarti “Perkataan yang baik”, dan “Huharsta” yang berarti “Perbuatan yang baik”.
B. Aliran Manu
Diantara ajaran yang diajarkan oleh aliran ini diantaranya:
a. Tentang baik dan buruk
Menurut ajaran manu ini bahwa segala kehidupan ini adalah kebaikan, karena akhirnya Tuhanlah yang akan menang atas roh kejahatan; oleh karenanya manusia hendaknya membantu Tuhan mengalahkan roh jahat dengan melakukan segala kebaikan. Selain itu menurut mereka pertempuran antara kebenaran dan kejelekan akan terus berlangsung selama manusia terus berkembang. Oleh karena itu menurut mereka agar semua kejahatan dan kejelekan cepat berakhir maka manusia harus menghentikan perkembang biakanya dengan kata lain tidak menikah agar tidak memiliki keturunan. Menurut ajaran ini pula, manusia harus menjauhi segala kesenangan dunia. Termasuk melarang menikah, menyembelih binatang dan makan daging.
‘Ibadat
Dalam ajarannya pula, aliran Manu mengajarkan peribadatan yaitu sembahyang dan puasa, sebelum sembahyang mereka mengusap anggota badan dengan air, kemudian menghadap matahari, lalu bersujud. Dalam tiap kali sembahyang ada dua belas kali bersujud; pada tiap sujud dilakukan doa; mereka berpuasa 7 hari dalam sebulan.
C. Madzdak
Aliran ini ajarannya mirip dengan ajaran Majusi kuno yakni meyakini adanya dua tuhan, yaitu tuhan baik dan tuhan keburukan. Selain itu ajaran yang paling terpenting dari aliran ini adalah ajaran yang mirip dengan sosialisme yang menyatakan bahwa manusia harus sama derajatnya. Yakni tidak memiliki stara social. Dan menurut mereka penyebab utama dari kejahatan dan peperangan adalah wanita dan harta, yang menyebabkan pengikut aliran ini membuat kekacauan di Naishaburi. Karena mereka memaksa orang-orang hartawan untuk menyerahkan harta mereka dan menyerahkan wanita agar tidak terjadi kekacauan atau peperangan.
D. Tsanwiyah
Diantara ajarannya selain mengakui dua tuhan, mereka juga mengajarkan untuk menyembah api, selain mereka juga menyembah berhala.
E. Disahniyah
Dishaniyah adalah ajaran Majusi yang lahir di luar persi. Yang didiraikan oleh bangsa Siryani (Sirya) yang bernama Bardaishan datau ibnu Dishan yang wafat pada tahun 222 M. ajarannya mirip dengan ajaran Manu yang menyatukan dua ajaran yakni Nasrani dan Majusi. Hanya saja perbedaanya adalah menurut mereka bahwa Isa Al Masih merupakan Allah yang diserupakan dalam bentuk manusia yang diutus untuk manusia. Selain itu ajarannya juga yang berbeda dengan yang lainnya yaitu mereka tidak mempercayai adaanya hari akherat. Sehingga menyebabkan aliran ini yang sangat berbeda dengan yang lainnya.
F. Zindiq
Zindiq adalah sebuah aliran Majusi yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Yakni agama Majusiah yang Atheis yakni tidak percaya akan adanya Tuhan. Menurut mereka bahwa alam raya ini terjadi dengan sendirinya, dan tidak akan berakhir, kekal selama-lamanya, dan zaman yang beredar ini akan terus berputar tiada akan berakhir.

Intinya, Walau banyak yang mengatakan Zoroasterianism itu Majusi. Tapi kemungkinan besar Zoroaster itu bagian dari Majusi, yaitu Madzhab dari agama Majusi. Bedanya Zoroaster dengan Majusi adalah. Zoroaster itu monoteis yaitu bertuhan satu yaitu Ahura Mazda, sedang Majusi bertuhan dua yaitu Ahura Mazda (tuhan cahaya) dan Ahriman (tuhan kegelapan). Zoroaster menggunakan api sebagai media penyembahan, sedang api dalam zoroasteriansme bukan tuhannya melainkan mediannya. Namun, tidak kecil kemungkinan jua kalau Zoroasterianisme itu disebut dengan agama Majusi yang menyembah tuhan api. Tapi, jumhur mengatakan bahwa Zoroasterianism adalah ajaran murni tauhid(Monoteisme).  Dan Zarathrustra merupakan seorang nabi yang mengajarkan ketauhidan. 
Credo (syahadat) di dalam agama Zarathustra itu berbunyi :
Saya mengaku diriku penyembah Mazda, dan pengikut Zarathustra, yang membenci daevas, dan mentaati Hukum Ahura. ( I confess myself a whorshipper of Mazda, a follower of Zoroaster, one who hates the daevas, and who obeys the Law of Ahura). = SBE, 31:202, 212, 247, 367.
Zoroastrianisme mempunyai prinsip dualisme yang mempercayai bahwa ada dua kekuatan yang bertentangan dan saling beradu yakni kekuatan kebaikan dan kejahatan. Dalam tradisi Zoroastrianisme, yang jahat diwakili oleh Angra Mainyu atau Ahriman, sedangkan yang baik diwakili oleh Spenta Mainyu. Manusia harus selalu memilih akan berpihak pada kebaikan atau kejahatan selama hidupnya. Akan tetapi, dengan paham dualisme ini tidak berarti bahwa Zoroastrianisme tidak mengakui monoteisme karena Ahura Mazdalah satu-satunya Tuhan yang disembah. Ahura Mazda, pada saatnya akan mengalahkan kekuatan yang jahat dan berkuasa penuh. Ahriman dan para pengikutnya akan dimusnahkan untuk selamanya. Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme denganAhura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui. Dewa-dewa yang turut diakui keberadaanya ada lima yaitu:
1.                              Asha Vahista, dewa tata tertib dan kebenaran yang berkuasa atas api
2.                              Vohu Manah, dewa yang digambarkan sebagai sapi jantan ini dikenal sebagai dewa hati nurani yang baik
3.                              Keshatra Vairya, yaitu dewa yang berkuasa atas segala logam
4.                              Spenta Armaity, yaitu dewa yang berkuasa atas bumi dan tanah
5.                              Haurvatat dan Amertat, yaitu dewa-dewa yang berkuasa atas air dan tumbuh-tumbuhan

Konsep Eskatologi: Kehidupan Setelah Kematian
Dalam pemahaman Zoroastrianisme, ajaran setelah kematian hampir mirip Islam. Setiap orang akan mengalami penghakiman setelah meninggal. Penganut Zoroaster meyakini bahwa ketika seseorang meninggal, ia harus dapat membuktikan dirinya telah melakukan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan. Mereka percaya setiap roh manusia yang telah meninggal harus melewati Jembatan Cinvat (dalam Islam, Jembatan Sidratul Mustaqim/Muantaha) yaitu jembatan yang menuju ke sorga. Jiwa manusia sesudah meninggal akan tetap tinggal selama tiga hari di dalam tubuhnya dan baru pada hari ke empat dibawa menuju penghakiman di Jembatan Cinvat.
Setelah berhasil melewati jembatan ini maka seseorang akan hidup bahagia dengan rahmat Ahura Mazda. Semakin banyak kebaikan yang dibuat seseorang maka akan semakin lebarlah jembatan itu dan sebaliknya, semakin besar kejahatannya maka semakin sempitlah jembatan itu hingga rohnya tidak dapat melewatinya dan jatuh dari Jembatan Cinvat. Di bawah jembatan inilah terdapat neraka yang penuh api, sebuah tempat yang suram dan penuh kesedihan. Menurut ajaran Zoroastrianisme, dunia akan mengalami pembaruan menuju kesempuranaan dan jiwa-jiwa baik yang masih hidup dan sudah mati akan dibebaskan selamanya dari kuasa jahat. Pembaruan dunia dan kebangkitan kembali seluruh ciptaan disebut Frashokeveti.

Konsep mengenai Etika Hidup
Dalam pandangannya mengenai etika hidup yang ideal, ada tiga hal utama yang ditekankan dalam Zoroastrianisme yaitu pikiran yang baik, perkataan yang baik dan perbuatan yang baik. Zoroastrianisme memberikan kebebasan bagi setiap penganutnya untuk memilih hidup yang baik atau jahat bagi dirinya sendiri. Menurut mereka dunia yang akan datang akan mengalami pembaruan. Pembaruan dunia ini tidak dapat dapat dikerjakan oleh satu orang saja tetapi membutuhkan keterlibatan banyak orang. Oleh karena itu, Zoroastrianisme sangat menekankan tanggung jawab moral dari masing-masing orang untuk melakukan kebaikan. Dosa bagi penganut Zoroastrianisme adalah penolakan untuk bersekutu dengan aspek kebaikan dari Ahura Mazda. Mereka meyakini bahwa tidak ada yang ditakdirkan atau dikodratkan sebelumnya. Apa yang dilakukan, dikatakan dan dipikirkan selama hidup akan menentukan apa yang akan terjadi setelah meninggal. Mereka pun menolak konsep pertapaan karena mereka memahami bahwa dunia itu baik. Tidak ada ruang untuk penyangkalan diri dan bertapa karena menolak dunia berarti menolak ciptaan dan menolak ciptaan berarti menolak Sang Pencipta.

Kematian Dalam Zoroasterianism
Zoroastrianisme tidak mengizinkan penguburan dan pembakaran tubuh orang yang telah meninggal karena dianggap akan menodai air, udara, bumi dan api. Mereka menyelenggarakan ritus kematian dengan menempatkan mayat di atas Dakhma atau Menara Ketenangan (Tower of Silence). Di sana terdapat pembagian tempat yang jelas bagi kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak. Adapun tahap-tahap yang dilakukan saat upacara kematian adalah sebagai berikut:
1.                  Mayat dibiarkan di dalam sebuah ruangan di rumah selama tiga hari sebelum dibawa ke Dakhma, tempat untuk melaksanakan upacara kematian.
2.                  Sesudah itu, mayat lalu dibawa ke Dakhma atau Menara Ketenangan.
3.                  Di sana mayat akan ditelanjangi dan ditidurkan di atas menara yang terbuka dan dibiarkan agar dimakan oleh burung-burung.
4.                  Sisa-sisa tulang kemudian dibuang ke dalam sumur.
Senin, 10 Juni 2013
Posted by Unknown

Responding Paper Jainisme



Jainisme (bahasa Sanskertaजैनधर्म - Jainadharma, bahasa Tamilசமணம் - Samaṇam) adalah sebuah agama dharma. Jaina bermakna penaklukan. Agama Jaina bermakna agama penaklukan. Dimaksudkan penaklukan kodrat-kodrat syahwati di dalam tata hidup manusiawi. Agama Jaina itu dibangun oleh Nataputta Vardhamana, hidup pada 559-527 sM yang beroleh panggilan Mahavira yang berarti pahlawan besar.
Agama Jaina lahir lebih dahulu daripada agama BuddhaAgama Buddha punya pengikut lebih luas di luar India, namun agama Jaina terbatas hanya di India saja. Kedua agama tersebut merupakan reaksi terhadap perikeadaan di dalam agama Hindu mengenai perkembangan ajarannya pada masa lampau.
Dewasa ini ada lebih dari 8 juta pengikut agama ini. Mereka terutama ditemukan di India. Secara sosial, biasanya para penganut Jainisme termasuk golongan menengah ke atas. Agama Jaina itu mewariskan bangunan-bangunan kuil yang amat terkenal keindahan arsitekturnya di India dan senantiasa dikunjungi wisatawan.
Kitab suci di dalam agama Jaina adalah Siddhanta. Kitab ini terdiri atas beberapa himpunan. Himpunan pertama terdiri atas dua belas buah Angas atau bab, namun Angas keduabelas telah lenyap, tidak dijumpai sampai sekarang.
 jaina artinya `penakluk spiritual` orang yang telah berhasil menaklukkan keinginan kenginannya. sekalipun pengikutnya sangat sedikit dibandingkan penduduk india agama ini masih eksis dengan pengikut pengikutnya yang terpencar diberbagai wilayah. 

Sejarah
Asal mula ajaran ini diperkirakan sudah ada pada zaman prasejarah india. Orang-orang pengikut jaina `Jainisme` mempercayai dengan adanya 24 Tirthankkara atau pendiri keyakinan dari mana keyakinan dan agama jaina diturunkan dan berkembang. Menurut tradisi jaina, Tirthangkara pertama adalah Rsabhadevayang merupakan pendiri jainisme dan terakhir adalah mahavira, pahlawan spiritual besar yang namanya juga adalah “vardhamana”. Mahavira, nabi terakhir tidak bisa dipandang sebagai pendiri, karena sebelum beliau ajaran-ajaran jaina telah ada. Tetapi mahavira memberikan orientasi baru sehingga jaina moderen menganggap ajaran jaina berasal dari mahavira. Ia hidup pada abad ke enam sebelum masehi se-zaman dengan budha.
Ajaran ini menekankan aspek etika yang sangat ketat, terutama komitmennya terhadap konsep ahimsa. Di katakan oleh para sarjana, konsep ahimsa inilah yang banyak mempengaruhi ajaran-ajaran berikutnya, seperti Buddha, bhagadgita, dan sebagainya. Menurut tradisi jaina, garis perguruan yang sangat panjang sejak zaman pra-sejarah diturunkan dimana keyakinan ajaran ini diteruskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Guru-guru yang telah meneruskan ajaran-ajaran jaina ini berjumlah dua puluh empat orang, yang disebut Tirthangkara atau penyebar keyakinan dan yang telah mendapat pencerahan.
Epsitemologi
Dalam aspek epistemologi, jaina menolak pandangan carvaka bahwa persepsi hanyalah satu-satunya sumber valid munculnya pengetahuan. Jika kita menolak kemungkinan memperoleh pengetahuan benar melalui inferensi dan testimoni orang lain, kita semestinya meragukan validitas persepsi, karena sekalipun persepsi kadang-kadang bisa bersifat ilusi. Padahal carvaka sendiri memakai inferensi (anumana) ketika mengatakan bahwa semua inferensi adalah invalid, dan juga ketika mereka menolak eksistensi objek-objek karena mereka tidak dilihat. Disamplng persepsi, jaina menerima inferensi dan testimony (sabda) sebagai sumber pengatahuan valid. Inferensi menberikan pengetahuan valid ketika ia mengikuti kaidah-kaidah logis yang tepat. Testimoni valid ketika ia merupakan laporan otoritas terpercaya. Atas otoritas ajaran-ajaran orang-orang sucu yang telah terbebaskan (jaina atau tirthankara) orang-orang pengikut ajaran ini mendapatkan pengetahuan yang benar yang tidak dapat diperoleh oleh orang yang masih terbatas. Testimoni Tirthankara ini tidak diragukan lagi ke-validan-nya.
Jaina mengklasifikasikan pengetahuan menjadi, pengetahuan langsung (aparoksa) dan pengetahuan antara (paroksa). Pengetahuan langsung lebih lanjut lagi dibagi lagi menjadi avadhi, manahparyaya dan kepala; dan pengetahuan antara menjadi mati dan sruta. Mati mencakup pengetahuan perseptual dan inferensial. Sruta berarti pengetahuan yang diambil dari otoritas. Avadhi-jnana, manahparyaya-jnana, dan kevala-jnana merupakan tiga jenis pengetahuan langsung yang bisa dikatakan sebagai persepsi ekstra biasa dan ekstra sensori avadhi adalah kemampuan melihat hal-hal yang tidak Nampak oleh indra; manahparyaya adalah telepathi; dan kevala adalah kemahatahuan. Disamping kelima pengetahuan benar tersebut diatas, ada juga tiga pengetahuan salah, yaitu samshaya atau keragu-raguan, viparyaya atau kesalahan dan anandhyavasaya atau pengetahuan salah melalui kesamaan.
Pengetahuan lagi dibagi menjadi dua jenis, yaitu pramana atau pengetahuan tentang suatu benda seperti apa adanya, dan naya atau pengetahuan tentang suatu benda didalam hubungannya dengan yang lainnya. Naya berarti titik pandang atau pendapat dari mana kita membuat pernyataan tentang sesuatu . Semua kebenaran adalah relativ terhadap pandangan kita. Pengetahuan parsial merupakan salah satu aspek yang takterhitung banyaknya tentang suatu benda disebut  “naya” . Terdapat tujuh naya yang empat pertama adalah artha-naya, kemudian tiga terakhir disebut sabda-naya.
Jaina percaya dengan pluralisme roh; terdapat roh-roh sebanyak tubuh hidup yang ada. Tidak hanya roh dalam binatang, tetapi juga tumbuh-tumbuhan dan bahkan dalam debu. Hal ini juga diterima dalam ilmu pengetahuan moderen. Semua roh tidak secara sama memilki kesadaran, ada yang lebih tinggi ada yang lebih rendah. Semaju apapun indria-indrinya, roh terbelenggu dalam pengetahuan y6ang terbatas; juga terbatas dalam tenaga dan mengalami segala jenis penderitaan.Tetapi setiap roh mampu mencapai kesadaran tak terbatas, kekuatan dan kebahagian. Mereka dihalangi oleh karma, seperti matahari dihalangi oleh awan. Karma dapat menyebabkan belenggu roh. Dengan menyingkirkan karma roh dapat memindahkan belenggu dan mendapatkan kesempurnaan alamiah.
            Tiga cara menyingkirkan belenggu, yaitu keyakinan yang sempurna dalam ajaran-ajaran guru-guru jaina, pengetahuan benar dalam ajaran-ajaran tersebut, dan perilaku yang benar. Perilaku benar terdiri atas praktek tidak menyakiti atau melukai seluruh makhluk hidup, menghidari kesalahan, mencuri, sensualitas, dan kemelakatan objek-objek indriya, mengkombinasikan ketiganya di atas, perasaan akan dikendalikan dan karma yang membelenggu roh akan disingkirkan. Lalu, roh mencapai kesempurnaan alamiahnya yang tak terbatas, pengetahuan tak terbatas, dan kebahagian yang tak terbatas. Inilah keadaan miksa menurut ajaran jaina. Hal ini telah dibukatikan oleh guru-guru dalam tradisi jaina atau Tirthankara. Mereka memperlihatkan jalan menuju moksa.
Metafisika
Di dalam aspek metafisikanya, jainisme mengambil posisi realistik dan pluralism relativistik. Ia disebut atau doktrin pluralistik realitas. Material dan spirit dipandang sebagai realitas-realitas yang independen dan terpisah. Terdapat atom-atom material yang tak terhitung jumlahnya dan roh-roh individu aspek-aspek dirinya yang juga tak terhitung jumlahnya. Sebuah benda mempunyai karakteristik yang tak hingga jumlahnya . setiap objek mempunyai karakter positif dan negative yang tak terhitung jumahnya. Adalah tak mungkin bagi manusia biasa untuk mengetahui semuanya itu. Kita hanya tahu sebagian kecil saja. Oleh karena itu, jainisme  mengatakan ia yang mengetahui semua sifat benda di dalam satu benda, mengetahui semua sifat semua benda, dan ia mengetahui semua sifat semua benda. Mengatahui senua sifat di dalam satu benda. Pengetahuan manusia, dengan melihat kapasitasnya yang terbatas , ia adalah relativ dan terbatas dan semuanya merupakan keputusan kita. Teori logika dan epistemologi Ajaran jaina ini disebut “syadvada”. Baik anekantavada maupun syadvada merupakan dua aspek dari ajaranyang sama –realistik dan prulalistik relativistik. Sisi metafisikanya bahwa realitas mempunyai karakter yang tak terhitung jumlahnya disebut anekantavada, sementara pandangan logika dan epistemologinya bahwa kita hanya dapat mengetahui beberapa aspek saja dari suatu realitas di dunia dan oleh karena itu keputusan-keputusan kita bersifat relativ, maka ia disebut syadvada dan ada tujuh golongannya:
1.      syadasti:secara relative, sebuah benda riil.
2.      Syannasti:secara relative, sebuah benda tidak riil.
3.      Syadasti nasty:secara relative, sebuah benda keduanya riil dan tidak riil.
4.      Syadavaktavyam:secara relative, sebuah benda tak bisadijelaskan.
5.      Syadasti cha avaktavyam:secara relative, sebuah benda riil dan tidak bisadijelaskan.
6.      Syannasti cha avaktavyam:secara relative, sebuah benda tidak riil dan tidak dapat di    jelaskan.
7.      Syadasti cha nasty cha avaktavyam: secara relative, sebuah bendarill, tidak riil dan tidak bisa dijelaskan.
Masyarakat jainisme terdiri atas pendeta, biara dan orang kebanyakan. Hanya ada lima disiplin spiritual didalam jainisme. Di dalam kasus kependetaan disiplin ini benar-baner ketat, kaku dan sangat fanatik. Sementara dalam kasus orang umum hal itu bisa di modifikasi. Kelima sumpah disebut “sumpah besar” (maha-vrta), sementara bagi orang umum disebut ‘sumpah kecil’ (anu-vrta). Kelima sumpah tersebut adalah (1) ahimsa (non kekerasan), (2) satya (kebenaran di dalam pikiran), (3) asteya (tidak mencuri), (4) brahmacharya (berpantang dari pemenuhan nafsu baik pikiran, perkataan maupun perbuatan), dan (5) aparigraha (ketakmelekatan dengan pikiran, perkataan dan prbuatan). Dalam halo rang umum, aturan ini bisa di modifikasi dan disederhanakan.
Seperti buddhisme, jainisme adalah sebuah agama yang tidak mempercayai adanya tuhan, menolak veda oleh karena itu disebut nastika. Tetapi, jaina menekankan pada aspek etika dn spiritual.
Simpati kepada semua makhluk hidup adalah salah satu ajaran utama jaina. Jaina juga menghormati semua jenis pemikiran. System ini menunjukkan bahwa setiap objek mempunyai aspek-aspek yang tak terbatas yang ditentukan oleh dirinya sendiri dan bukan dari luar dirinyasendiri atau dari pandangan yang berbeda. Semua keputusan benar terhadap suatu benda sepanjang berhubungan dengan benda tersebut. Mengingat keterbatasan pikiran, tidak ada satu pikiran berlaku benar bagi semua benda atau hal. Kita harus belajar menjaga dan memprtahankan pikiran kita masing-masing dengan cara menghormati kemungkinan benar pendapat atau pemikiran orang lain.
Sedangkan      Karma adalah pengikat yang menggabungkan roh dengan tubuh. Keyakinan yang benar, perbuatan yang benar, pengetahuan yang benar membentuk jalan yanga benar untuk mencapai pembebasan yang merupakan efek dari ketiganya tadi. Ketiganya ini merupakan triratna (tiga permata) bagi jainisme.
Sekte
Didalam perkembangannya, jainisme pecah menjadi dua sekte, yaitu swetambara atau (yang berpakaian putih) dan dirgambara atau (yang berpakaian langit). Perbedaannya adalah hanya dalam beberapadetail ajaran dan praktek agama yanga bersifat minoritas. Secara fundamental tidak ada perbedaannya. Pecahnya menjadi dua sekte tersebut tidak berpengaruh kepada jainisme yang esensial. Dirgambara lebih keras dan sangat fanatik, sementara swetambara lebih akomodatif. Aturan agar berpakaian putih atau telanjang bulat hanya berlaku bagi pendeta tertinggi dan bukan untuk orang kebanyakan; tidak juga bagi pendeta yang rendah. Menurut swetambara, pendeta tertinggi harus mengenakan jubah putih, sementara menurut dirganbara, mereka harus tidak mengenakan kain secarikpun. Menurut sekte dirgambara mereka harus mempertahankan hidup pertapa yang sempurna, tidur hanya tiga jam sehari, makan dari meminta-minta, susah waktunya untuk belajar dan mengajar, dari wanita tidak dapat mencapai pembebasan: sementara swetambara menolak pandangan ini. Kehidupan kependetaan dirgambara sangat keras dan ketat didalam hal disiplin. Karenanya pengikutnya sangat kecil jumlahnya. 
Posted by Unknown

Responding Paper Romawi Kuno



Dalam beberapa hal, agama Romawi sangat mirip dengan agama Yunani, namun dalam hal lain, keduanya juga cukup berbeda. Seperti orang Yunani, bangsa Romawi juga mempercayai banyak dewa, dan masing-masing dewa mengendalikan berbagai unsur dunia dan kehidupan, misalnya badai, samudra, pernikahan, pandai besi, dll. Namun bangsa Romawi lebih tertarik pada konsep kontrak, dibandingkan bangsa Yunani yang lebih menyukai konsep keseimbangan. Salah satu konsep agama Romawi adalah "do ut des" (aku beri maka kau akan balas memberi). Orang-orang memberi persembahan pada para dewa sehingga para dewa akan memberi mereka pertolongan sebagai balasannya.
Dewa utama Romawi adalah Jupiter. Namanya berkaitan dengan dewa utama Yunani, Zeus, dan mereka pun banyak memiliki kemiripan. Keduanya sama-sama dewa langit dan memiliki senjata berupa petir. Semntara itu, dewi Romawi Juno dan Minerva berkaitan dengan dewi Yunani Hera dan Athena.
Setelah ditaklukan oleh Romawi, bangsa Afrika (termasuk Mesir), Eropa, dan Asia Barat (termasuk Yahudi) tetap menyembah tuhan masing-masing sambil mengadopsi pemujaan dewa Romawi. Para pemimpin Romawi tidak keberatan dengan orang-orang yang menyembah banyak dewa, berapapun banyaknya. Namun mereka tidak suka jika orang Yahudi dan Nasrani menolak untuk menyembah dewa Romawi.
Pada awalnya, dewa Romawi dan dewa Yunani sangat berbeda walaupun sedikit berkaitan. Namun setelah bangsa Romawi mengenal agama Etruria dan Yunani, bangsa Romawi sangat mengagumi dewa-dewa mereka, dan bangsa Romawi pun mulai mengadopsi banyak dewa Yunani sambil tetap menyembah dewa Romawi, contoh dewa Yunani yang banyak disembah oleh Romawi adalah Kastor dan Pollux. Selain itu, bangsa Romawi juga menyerap dewi Isis dai Mesir dan dewa Mithra dari Suriah.
Bagi orang Romawi, kaisar mereka adalah dewa, atau orang yang dekat dengan dewa. Di bagian timur Kekaisaran Romawi, orang-orang memuja kaisar sebagai dewa, sementara di bagian barat kekaisaran, orang-orang lebih memuja dewa pelindung sang kaisar, alih-alih kaisar itu sendiri.
Tidak dapat dipastikan dengan pasti kapan suku-suku Italic Indo-Eropah membuat perjalanan ke Italia. Sementara ahli menghubungkannya dengan yang disebut kebudayaanTeramara, yang terletak di sebelah utara Italia. Rupa-rupanya saja yang menjadi asal pusat penyebarannya itu terletak di sebelah timur hulu sungai Donau. Dan munculnya kebudayaan ini di Italia itu lebih kurang bersamaan waktunya dengan awal permulaan zaman perunggu, kira-kira tahun 1500 SM. Sedangkan sementara ahli lainnya ingin menghubungkan suku Italic ini dengan imigrasi yang kira-kira sezaman dengan permulaan zaman besi, kira-kira tahun 500 SM.
Secara kasar bersamaan waktunya dengan kedatangan kebudayaan Etruscan di bagian tengah jazirah ini. Sedangkan di bagian selatan Yunani pada abad VIII SM penghuninya sudah bertambah. Keadaan demikian menjadikan daerah ini mengalami proses kebudayaan yang dinamis, termasuk dalam hal kepercayaan atau agama.
Agama Romawi Kuno merupakan salah satu dari sistem kepercayaan masyarakat dari suku-suku Italic tersebut. Agama ini diduga pernah ada dengan bukti-bukti arkeologis, inskripsi, dan dokumen-dokumen sastra yang memberi petunjuk tentang pernah adanya agama tersebut.
Berikut daftar sementara perkembangan mengenai data keagamaan Romawi Kuno:
1.    Republik yang mula-mula tahun 509 – 387 SM. Periode ini berakhnir sewaktu bangsa Ghalia menyerang dan menghancurkan Roma.
2.    Kekuasaan besar orang Italic kira-kira dari tahun 390 – 270 SM. Pada waktu kekuasaan Romawi meluas di seluruh jazirah Appenin berakhir sampai jatuhnya koloni-koloni Yunani di selatan pada tahun 272 SM.
3.    Kekuasaan besar Hellenistik kira-kira antara tahun 270 – 27 SM. Pada saati Romawi bangkit menjadi suatu kekuatan dunia. Dalam periode ini terjadi perang Punic, yaitu perang melawan Kartagho di Afrika Utara antara tahun 264 – 241 SM, 218 – 201 SM, 149 – 145 SM. Perang Macedonia antara tahun 216 – 205 SM, 200 – 197 SM, 171 – 168 SM, penaklukan bangsa Ghalia oleh Caesar tahun 58 – 50 SM. Periode ini berakhir sewaktu timbul ketegangan di dalam kerajaan itu sendiri pada waktu itu Augustus berhasil memegang sebagai Emperor.
4.    Abad Imperium yang berlangsung antara 27 SM – 395 M. Selama periode ini kekaisaran membentang antara Romawi Barat dan Romawi Timur.
Yang menarik perhatian di antara dewa-dewa Romawi Kuno itu adalah sekelompok tiga dewa yang menjadi satu, dimana untuk ini terdapat tiga orang pendeta agung yang disebut Flamines Majores yang mengenai Yupietr, Mars, dan Quirinus. Ketika dewa tersebut biasa disebut sekaligus bersama-sama. Bilaman menyeru ketiganya itu berarti semuanya secara satu persatu diseru tanpa membeda-bedakan.
Jupiter adalah dewa langit orang-orang Arya dengan ciri langit yang melengkung sebagai tanda kemuliannya. Seperti halnya Zeus, Jupiter juga tinggal di puncak gunung dan menguasai gejala-gejala alam angkasa, seperti hujan dan kilat.
Mars adalah dewa perang yang bersimbolkan sebuah lembing dan kebanyakan perayaan pestanya dilakukan pada hari kelima atau hari ketujuh yang disebut Nones. Mars itu bersifat gagah perkasa, suka berperang, digambarkan sedang menari dengan dua belas perisai, salah satu perisai berasal jatuh dari langit. Mars itu bukan hanya melindungi negara terhadap musuh, tetapi juga memelihara ladang dari kerusakan dan memelihara ternak dari kebinasaan serta mengirimkan kekuatan dan kesehatan.
Quirinus adalah Mars yang suka damai, Mars yang mengetahu masalah damai. Pendetanya yang khusus adalah Flamen quirinalis yang memiliki fungsi dalam pemujaan yang berkenaan dengan pertanian beserta para dewanya. Nama Quirinus itu menunjukkan bahwa dirinya sebagai dewa rakyat, atau dewa daripada orang-orang anggota masyarakat biasa (orang praman).
Segala macam kebaktian di kalangan orang Romawi Kuno itu didasarkan pada suatu ide umum, yaitu bahwa antara manusia dan dewa terdapat suatu ikatan kontrak yang dijalani bersama, yang secara dikatakan do ut des yang termasuk honorific sacrifice, dimana terhadap dewa dipersembahkan korban sebagai tanda terima kasih atau maksud-maksud yang lain. Tetapi yang agak lebih tepat di sini menggunakan ungkapan debitas honores.Keharusan bagi dewa wajib menerima dan manusia berkewajiban mempersembahkannya.
Doa-doa disesuaikan macam formulanya dan hukumnya. Mereka harus mensitirnya sesuai dengan kata yang sudah ditentukan. Berdoa harus jelas serta tentu dan menyebut nama dewa harus dengan tepat.
Kesalehan dalam agama Romawi Kuno adalah suatu perasaan bahagia bergantung kepada suatu kekuatan yang lebih tinggi serta berhasrat untuk menepati keinginan itu di dalam segala bidang kehidupan manusiawi. Untuk ini ucapan-ucapan khas seperti dis juvantibusdengan pertolongan dewa, dis faventibus atas karunia dewa, serta dis valentibus atas kehendak dewa. Di kalangan orang Romawi kesalehan termasuk unsur kewajiban yang kuat. Perkataan pietas seringkali artinya semata-mata karena keinginan menyerahkan segalanya kepada para dewa dan aspek moral dalam agama moral yang disebut virtus memiliki karakter seperti hukum kesalehan ini.
Orang-orang Romawi Kuno mempercayai adanya jiwa. Roh itu berasal dari Jupiter dan sesudah mati akan kembali kepadanya. Jiwa disebut di manes “para dewa yang baik”. Mereka itu bisa juga sebagai pelindung kebajikan atau mendatangkan keonaran orang mati yang belum dikubur dengan sempurna sebagaimana mestinya ataupun menerima korban yang cocok bisa saja mereka itu melakukan sesuatu yang merugikan bagi makhluk hidup. Hantu-hantu seperti itu disbeut larvae atau lemures yang bisa didamaikan kembali melalui upacara-upacara khas dan persembahan korban.

Posted by Unknown

Labels

Popular Post

Blogger templates

Blog Archive

- Copyright © Agama Minor -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -